Berilah kepastian, Ditolak atau diteri …….!!!

Fenomena yang sering terjadi dikalangan ikhwan dan akhwat yang sedang mempersiapkan diri ke gerbang pernikahan biasanya akan melalui “fase ta’aruf”. Suatu usaha atau ikhtiar untuk mengetahui hakikat calon pasangan kita. Bagaimana sifat dan karakternya, keluarganya, gaya hidupnya, dan seabreg-abreg “rahasia si dia” yang ingin kita ketahui dengan detail dalam ta’aruf adalah di bolehkan dalam islam. Agar mantap sebelum terjadi pinangan/lamaran. Sayangnya, sering terjadi dari pihak wanita kurang jeli dalam memanfaatkan moment ini, banyak diantara mereka yang melihat beberapa nilai plus dari calonnya langsung mengatakan “iya”, terburu-buru menjatuhkan pilihan. Dengan alasan bahwa lamaran bisa di batalkan atau dengan kata lain mudah dibatalkan maka ketika ditengah perjalanan sering kita temui “korban-korban” berjatuhan, baik dari pihak wanita maupun laki-lakinya. Banyak di pihak lelaki kecewa atau juga mungkin dari pihak laki-laki yang menarik pinangannya sehingga pihak wanita juga kecewa.

Gagal dalam ta’aruf ? jangan terlalu bersedih dan kecewa. Tapi juga ingat dan sadari berapa banyak pilihan yang kita inginkan dari calon pasangan kita. Ingatlah,..bahwa sosok yang kita harapkan menjadi pendamping hidup kita tidak akan bisa sempurna total!! bagi pihak wanita biasaya sosok yang diharapkan adalah yang berilmu, ganteng,dan mapan dan bagi pihak lelaki biasanya menginginkan sosok akhwat berilmu dan cerdas, cantik, putih kulitnya, lembut dan pengertian. Jangan terlalu tinggi memasang target?? Iya,..karena itulah banyak yang mengharapkan calon pasangannya mampu begini dan begitu harus bisa ini dan itu dan sebagainya. Sehingga sebenarnya kegagalan dalam melewati fase ta’aruf adalah karena tingginya target yang di harapkan dari calon pasangannya.

Melihat dengan jujur apa yang ada dalam diri kita, mengaca dan menggali kembali kemampuan, kelebihan dan kekurangannya adalah sangat perlu di perhatikan bagi ikhwan dan akhwat yang berniat akan menikah. Sehingga apabila memang hatinya “khalisan lillah li wajhillah” benar-benar ingin menikah karena Allah, ikhlas karena Allah semata, karena mengharapkan wajah-Nya semata maka dia tidak akan memasang target atau impian yang terlalu tinggi dan muluk. Karena sesungguhnya Allah sendiri telah menjamin hal itu bagi hamba-hamba-Nya yang baik yang shalih akan mendapatkan pasangan yang shalihah juga sebagaimana firman-Nya: “Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula” (An-Nuur: 26).

Berfikir positif dan selalu berhusnudzan (berbaik sangka) kepada Allah harus selalu ada dalam pikiran kita ketika menghadapi kegagalan dalam ta’aruf.Boleh jadi ketika kita sangat menginginkan calon pasangan kita itu ternyata ia adalah bukan yang terbaik di sisi Allah Azza wa jalla, dan kemungkinan lain Allah akan menggantikannya dengan calon lain yang lebih baik. Cobalah renungkan pula firman-Nya berikut ini : “ …boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahuinya” (Al-Baqarah :216)

Tetaplah berdoa dan berusaha sesuai dengan kemampuan kita dan janganlah terlalu memasang target yang terlalu tinggi sebagaimana penulis ungkapkan diatas agar kita tidak selalu “gagal” dalam ta’aruf .

Buat saudariku akhwat dan ikhwan yang masih “gagal” dalam ta’aruf perbanyaklah doa kepada-Nya. Mintalah yang terbaik bagi kehidupanmu di dunia dan akhirat nanti. Janganlah karena omongan kanan-kiri, karena usiamu yang terus bertambah membuat engkau tak sabar. Ingatlah bahwa pernikahan bukanlah hanya untuk satu hari atau dua hari dan berapa banyak tanggung jawab yang akan engkau emban setelah engkau menikah tentu akan membuatmu berfikir dengan akalmu bukan dengan perasaanmu. Jangan menyerah,..wahai saudaraku !! Usaha ta’aruf lagi sampai Allah pertemukan engkau dengan calon pasanganmu. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal usahamu dan juga doamu.

Diterima atau ditolak ya …….????

Ini dia yang banyak melanda dikalangan wanita muslimah, gelisah dan resah sebelum dilamar. Melirik dan mengaca setiap hari,…mengapa jodoh belum juga datang menghampiri?? Apa yang salah pada dirinya? Usia dan waktu seakan saling berlomba mendahuluinya. Tetapi, mengapa pasangan hidupnya seakan lambat mendatanginya?. Duhai Rabbi dimanakah dia berada?? Keluhan, harapan dan keinginan menari di dalam hati setiap wanita yang belum juga mendapatkan jodohnya. Akan tetapi ketika “sang arjuna” datang menghampiri, tiba-tiba ia merasa bimbang dan ragu. Dalam hati ia berkata :Benarkah ia jodoh untukku? Untuk dunia dan akhiratku?

Masalah menjadi bertambah keruh ketika saudari kita ini mengetahui dengan baik bahwa orang yang datang melamarnya adalah seorang laki-laki yang shalih. Dan, berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan yang penulis perhatikan selama ini, bila orang yang melamar ini menyukai/senang dengan fihak yang akan dinikahinya maka hadits terkenal dibawah ini sering dibawakan :D ari Abu Hurarirah radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: ”Apabila datang kepada kalian orang yang kalian ridha akan agama dan akhlaknya maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar di permukaan bumi” (HR. Tirmidzi)

Maka jadilah si muslimah ini ragu dan takut menolak lamaran tersebut. Padahal hadits diatas khithabnya adalah ditujukan kepada si wali wanita (yang berhak menikahkan orang yang berada dalam perwaliannya) bukan kepada si pelamar. Sedangkan si wanita itu sendiri ia berhak membatalkan lamaran (khitbah) walaupun orang yang melamarnya adalah seorang laki-laki yang shalih (baik agamanya) namun ternyata ia tidak menyukainya. Berdasarkan hadits :

Seorang janda tidaklah dinikahkan sehingga dimintai pendapatnya. Tidak pula seorang gadis dinikahkan kecuali setelah diminta izinnya…” (HR. Bukhari, Muslim dan tirmidzi, hasan shahih, Al-jami’ fi fiqhi an-Nisaa hal:400).

Dalam hadits lain dikatakan, ada seorang gadis menemui Rasulullah lalu bercerita tentang ayahnya yang menikahkannya dengan orang yang tidak ia sukai, maka Rasulullah memberi hak kepadanya untuk memilih…. [HR Ahmad, Abu Dawud, & Ibnu Majah, lihat Kitab Bulughul Maram hadits no 1016]

Saudariku muslimah,..bila memang hatimu tidak suka maka janganlah engkau merasa ragu dan bimbang. Apalagi segan atau takut untuk membatalkan lamaran itu. Jangan merasa tidak enak, nanti akan mengecewakan keluarga laki-laki dan mungkin fitnah yang timbul akibat pembatalan itu. Engkau yang akan menikah, engkau yang akan menjalani hidup bersamanya,bukan orangtuamu, bukan tetanggamu, atau masyarakat di sekitarmu. Hilangkan semua perasaan-perasaan tidak enak yang berkecamuk dalam dadamu. Yakinlah terhadap pilihanmu bila memang engkau tidak suka maka jangan ragu-ragu untuk menolaknya. Itu semua untuk kebaikan agamamu, kebahagiaan dunia dan akhiratmu. Semoga Allah segera menghadirkan calon yang sesuai dengan idaman hatimu sebagaimana doa yang kau panjatkan kepada-Nya. Amin ya,..Mujibas Sailin.

Wallahu a’lam bish-shawwab

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Indahnya Cinta

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s